RADARMALL.CO.ID - Di tengah gejolak ekonomi global dan ketegangan geopolitik yang semakin tajam, Emas kembali naik daun sebagai cadangan strategis negara.
Banyak bank sentral di dunia kini memperbesar porsi emas dalam cadangan devisa, karena logam mulia ini terbukti lebih stabil dibanding aset lain seperti dolar AS atau surat utang.
Dari Amerika Serikat, Jerman, Italia, hingga Tiongkok dan India, tren ini menegaskan bahwa Emas bukan sekadar komoditas, melainkan instrumen penting dalam menjaga kedaulatan moneter.
Cadangan devisa biasanya tersusun dari mata uang asing, obligasi, hingga komoditas tertentu. Namun, Emas menempati posisi istimewa karena nilainya yang tahan terhadap inflasi dan krisis. Tidak heran jika emas sering disebut sebagai "pelindung terakhir" ekonomi sebuah negara.
Dengan menjadikan Emas sebagai cadangan strategis negara, bank sentral bisa mengurangi risiko ketergantungan pada dolar AS atau euro, sekaligus memperkuat legitimasi ekonomi di mata internasional.
Amerika Serikat menjadi contoh paling menonjol. Negeri ini menyimpan lebih dari 8.100 ton Emas, yang mencakup hampir 75% dari total cadangan devisanya.
Peninggalan era Bretton Woods tersebut masih dipertahankan karena dianggap memberi legitimasi global atas kekuatan ekonomi dan Moneter AS.
Jerman juga tidak kalah agresif. Negara ini memegang lebih dari 3.300 ton Emas, setara hampir 70% cadangan devisanya.
Menariknya, Berlin sempat memulangkan Emas dari New York dan Paris ke Frankfurt agar kendali penuh atas aset berharga tersebut ada di tangan mereka sendiri.
Italia tercatat memiliki sekitar 2.450 ton Emas. Dua pertiga cadangan devisa negeri ini berbentuk emas, yang berfungsi sebagai benteng moneter menghadapi utang publik besar.
Tidak berlebihan jika Emas disebut sebagai "penjaga terakhir" stabilitas ekonomi Italia.
Prancis tetap mempertahankan cadangan Emas lebih dari 2.400 ton. Walau tergabung dalam zona euro, Paris melihat emas sebagai simbol kedaulatan ekonomi.
Ketika Eropa dilanda krisis, Emas menjadi penyelamat yang menjaga fondasi moneter negara.
Rusia mengambil langkah berbeda sejak 2014. Dengan membeli Emas dalam jumlah besar, Moskow berhasil menekan ketergantungan pada dolar AS.